DPRD Banten Tertarik Adopsi Konsep Puspa Agro                

 

PUSPA AGRO >> Puluhan anggota DPRD Prov. Banten yang tergabung dalam Pansus Agribis bersama pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat bertandang ke home base Puspa Agro, Senin (26/2/2018). Kunjungan ini dimaksudkan menimba masukan dan pengalaman manajemen Puspa Agro dalam mengelola dan mengembangkan bisnis berbasis komoditas agro atau pertanian.

Anggota Pansus berpose di Gedung Tani.

Dipimpin Ketua Pansus, H Abas, rombongan anggota dewan itu diterima langsung oleh Direktur Utama PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin di VIP Room Gedung Tani Puspa Agro. Banyak hal didiskusikan dalam pertemuan yang berlangsung gayeng ini. Di antaranya tentang mekanisme pengelolaan Puspa Agro, visi-misi dan komitmennya terhadap petani, aspek kepemilikan (saham), hingga kontribusinya bagi stabilitas harga komoditas pertanian, terutama pangan di masyarakat.

Pansus ini datang ke Puspa Agro karena saat ini Pemprov Banten tengah menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pembentukan Perseroan Terbatas (PT) Agribisnis. Pansus, kata Abas, merasa perlu banyak masukan sebelum Ranperda itu di-Perdakan. Dan, Puspa Agro menjadi pilihan untuk didopsi konsep pengelolaannya karena dinilai berhasil menjalankan kinerja perusahaan berbasis agro.

“Kami berharap, konsep-konsep yang dikembangkan di Puspa Agro ini bisa dijadikan masukan dalam pembahasan Ranperda sebelumnya akhirnya jadi perseroan beneran kayak Puspa Agro,” kata Abas.

Sementara Udin, sapaan akrab Abdullah Muchibuddin, kepada rombongan Pansus Agribisnis itu mengatakan, ada dua sayap bisnis yang kini dikelola Puspa Agro. Pertama, fisik pasar yang menyediakan lapak-lapak sebagai sarana bisnis sektor agro bagi petani dan pedagang atau pelaku bisnis agro. Kedua, Puspa Agro juga turun langsung ke sentra-sentra penghasil agro sebagai pemain bisnis sektor pertanian ini.

“Lewat Divisi Trading House, kami jemput bola untuk mempercepat serapan hasil panen petani, peternak, juga petambak atau nelayan.. Dan, dalam empat tahun uji coba yang kami lakukan, hasilnya cukup signifikan,” kata Udin.

Dikatakan, tahun pertama pengoperasian Trading House, yakni pertengahan 2014 omzetnya baru Rp 14,37 miliar. Tahun 2015 naik menjadi Rp 78 miliar. Lonjakan omzet terjadi pada 2016 yang tercatat Rp 279,12 miliar, dan untuk 2017 (sampai dengan Oktober) omzet Trading House mencapai Rp 451,22 miliar.

“Kalau kita mau kelola sektor ini secara serius, selain bisa meningkatkan nilai pendapatan petani, juga menguntungkan secara ekonomis,” katanya. (sha)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*