Inilah Tradisi Unik Puspa Agro di Hari Pertama Masuk Pasca-Lebaran

               Direksi dan karyawan kompak memulai hari pertama kerja lewat tradisi kumpulkan jajan tradisional.

PUSPA AGRO>> Manajemen Puspa Agro memiliki cara unik untuk menghadirkan suasan akrab penuh kekeluargaan di antara karyawannya. Pada hari pertama masuk kerja pascalebaran (libur Hari Taya Idul Fitri), jajaran direksi dan seluruh karyawan membawa jajanan atau makanan tradisional dari daerah asal masing-masing.

Menariknya, budaya atau kearifan lokal yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir ini, nyaris menghapus sekat status sosial di perusahaan. Seluruh awak perusahaan pengelola pusat perdagangan agro ini mengumpulkan jajanan yang mereka bawa dari daerah masing-masing di meja rapat direksi.

Tanpa memilah-milah jajanan sesuai jenis dan harganya, semuanya ditumpuk secara acak di atas meja. Setelah melalui “prosesi dan doa khusus”, sekitar 50 karyawan dan direksi pun secara tertib mengambil jajanan yang mereka suka dan mereka makan bersama-sama. Nyaris tanpa berisik atau rebutan.

Seperti terjadi pada Senin (10/6/2019) siang lalu. Pada hari pertama kerja pascalibur panjang itu, jajaran direksi dan seluruh karyawan berbaur di ruang direktur utama. Mereka pun asyik dan larut dalam pusaran kegayengan sambil menikmati jajanan yang menggunung di atas meja. Tradisi ini sekaligus diformat sebagai halal bihalal keluarga besar Puspa Agro.

“Saya minta, tradisi penuh kekeluargaan ini dijaga kelestariannya. Meski ketika nanti saya sudah tidak ada di Puspa, tolong tradisi ini tetap dijaga, dipertahankan. Inilah semangat kekeluargaan yang kita bangun di perusahaan, meski dengan cara yang sederhana,” pesan Direktur Utama PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin sebelum memberikan sinyal “serbu” untuk menyantap lebih dari 50 item jajanan itu.

Tanpa berisik, bareng-bareng menikmati jajanan yang ada.

Sementara Humas Puspa Agro, Suhartoko, sebelum detik-detik “penyerbuan” jajanan, mengajak para karyawan untuk menjadikan ‘ibrah (pelajaran) apa saja yang ada di sekitar, sebagai media berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki. Sebab, lanjutnya, berkomunikasi dengan Tuhan sebagai bagian dari ibadah, bisa dilakukan di mana saja dan dengan media apa saja. Demikian juga dengan upaya berbenah diri dalam konteks menjajaga hubungan baik dengan sesame, khususnya para karyawan perusahaan.

“Saya tidak tahu siapa yang menumpuk atau menata jajanan di meja yang sekarang siap menunggu kita. Ini ada kerupuk goreng pasir yang kita kenal dengan kerupuk upil. Di tumpukan jajanan ini, saya yakin, harganya jauh lebih murah  dibanding tahu stick yang dikemas bagus ini. Tapi, toh kerupuk yang murah ini ini berada ditumpukan yang lebih tinggi daripada tahu stick ini yang harganya lebih mahal, dan tahunya nggak protes,” ujarnya seraya mengangkat dua jenis jajanan ini.

Dikatakan, belajar dari filosofi tumpukan aneka jananan itu, ia lalu menganalogikan sebagai team work dalam perusahaan. Dalam team work yang solid, lanjut Hartoko, seyogyanya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi, lalu merendahkan dan menganggap tidak penting pihak lain. Sebab, semua eleman bergerak dan menjalankan tugas sesuai fungsi masing-masing.

“Bahwa dalam praktik ada peran dan tanggung jawab yang berbeda, itulah konsekuensi atas keragaman posisi masing-masing. Karena itu, kita bisa ngaji tipis-tipis dari tumpukan jajanan ini atau dengan instrument apa saja di sekitar kita, lalu mengambil pelajaran dari setiap fenomena yang ada,” ujar Hartoko. (sto)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*