Mahasiswa Widyagama Belajar Bisnis ke Puspa Agro

PUSPA AGRO >> Sebanyak 28 mahasiswa Universitas Widyagama Malang ngangsu kaweruh ke pusat perdagangan agro (Puspa Agro), Selasa (28/11/2017). Mereka dari beberapa angkatan, tetapi dengan program studi (prodi) yang sama, yakni  Agribisnis, Fakultas Pertanian.

Didampingi Dekan Fakultas Pertanian, Evi Nurifah Julitasari dan Kaprodi Agribisnis, Suwarta, dan beberapa dosen, mereka diterima Kahumas PT Puspa Agro, Suhartoko. Tak cukup hanya menerima penjelasan dan dialog di ruang rapat, mereka juga mengunjungi beberapa lokasi unit usaha yang dikelola Puspa Agro, di antaranya home base Divisi Trading House, cold storage, Puspa Biotech, juga beberapa titik di pasar induk Puspa Agro.

“Kedatangan kami dan para mahasiswa ini, ingin mengetahui dari dekat bagaimana pengelolaan Puspa Agro, terutama dari aspek bisnisnya. Ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk mengembangkan ilmu yang mereka dapat dari kampus,” kata Evi Nurifah membuka pembicaraan.

Pada sesi dialog, beberapa mahasiswa benyak meminta penjelasan bagaimana mekanisme kerja sama yang dijalin manajemen Puspa Agro dengan para petani, peternak, petambak, dan nelayan di Jatim dalam memfasilitasi pemasaran hasil panen mereka.  Adalah syarat khusus yang harus dipenuhi oleh petani untuk bisa bekerja sama dengan Puspa Agro?

“Tidak ada syarat khusus. Begitu ada kecocokan, ya jalan. Misi kami memang membantu petani, termasuk peternak, petambak, dan nelayan untuk membuka peluang pasar.  Sebab, problem terbesar petani selama ini kan di aspek pemasaran. Kalau soal produksi, mereka tak perlu diajari karena sduag pinter-pinter. Tetapi, bagaimana memasarkan dengan harga yang bagus, itu yang sering jadi kendala di lapangan. Nah, di sinilah Puspa Agro hadir untuk membantu memasarkan hasil panen mereka,” ujar Suhartoko.

Bagaimana menciptakan harga yang bagus dan memberikan nilai tambah bagi petani, tambah Suhartoko, adalah dengan memperpendek mata rantai distribusi barang mulai dari sawah hingga konsumen akhir. Selama ini, tingginya disparitas harga komoditas pertanian terjadi karena mata rantai distribusi masih terlalu panjang.

“Celakanya, yang menikmati harga yang tinggi itu bukan petani, tetapi para tengkulak atau pengepul dan pedagang perantaranya. Nah, peran memperpendek mata rantai distribusi perdagangan inilah yang diamanatkan kepada Puspa Agro,” katanya, seraya memberikan tantangan kepada mahasiswa untuk menjadi pebisnis sektor agro. (sha)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*